Hai-hai, kenalin,
nama aku Hermione Merie, biasa dipanggil Merie atau Yeye. Besok kan aku ujian tengah semester Pengantar Ilmu Jurnalistik,
jadi aku share materinya disini ya. :)
SEMBILAN ELEMEN JURNALIS -
BILL KOVACH
- Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran
- Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga Negara
- Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi
- Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya.
- Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan
- Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling-kritik dan menemukan kompromi
- Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan
- Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional
- Berhati Nurani
A. Berita: Laporan
tentang kejadian-kejadian aktual yang menarik
Tiga unsur berita
1. Kejadian atau peristiwa
2. Pembuat laporan di media massa.
3. Pembaca, pendengar/pemirsa.
Apakah BERITA itu?
· Peristiwa menjadi
berita karena ada kaitannya dengan manusia, baik pelapor maupun masyarakat
pembaca. Karena itu, manusialah yang menjadi titik pusat berita.
· Peristiwa yang
tak punya kaitan sama sekali dengan manusia, tidak dapat dikatakan berita.
· Peristiwa yang
tak mengait manusia dapat dibuat sedemikian rupa, sehingga menarik minat
manusia.
Contoh: 20 tahun lalu orang tak peduli
beberapa ekor gajah kelaparan di Afrika atau di hutan-hutan Sumatera. Tapi
dengan dramatisasi yang mengharukan, pers berhasil menarik minat pembaca akan
perlunya perlindungan akan gajah.
B. Definisi klasik:
Anjing
menggigit manusia, itu biasa. Tapi kalau manusia menggigit anjing, itu baru
berita.
Maknanya:
Ø Sesuatu
hal yang lain daripada yang lain.
Ø Segala
yang aneh-aneh
Ø Sesuatu
di luar kebiasaan
C. Definisi akademis:
Tiap-tiap peristiwa, pikiran atau pendapat (idea)
yang masih hangat, mendapat perhatian/menarik perhatian atau menyangkut
sebagian besar orang di dalam suatu masyarakat dan dapat dimengerti oleh
mereka.
Maknanya:
Bukan hanya laporan dari peristiwa semata-mata,
juga ide-ide, pikiran-pikiran dan analisis-analisis tentang berbagai masalah
yang hangat dan banyak menarik perhatian masyarakat.
D. Pengertian Berita
Konsep “berita” berkembang sangat pesat
mengikuti proses perkembangan masyarakat yang bergerak sangat dinamis. Mochtar
Lubis dalam buku: “Pers dan Wartawan,” menguraikan tentang
“berita” sebagai berikut :
Berita, awalnya, bila sudah menjawab empat
pertanyaan (empat W) yakni What, Who, Where, When atau Apa, Siapa,
Apabila, Di mana.”
Contoh : Si Anu berbuat ini atau itu di sana
ketika itu.
Zaman semakin maju, masyarakat tak puas dengan
menjawaab pertanyaan “empat W,” tapi harus bisa menjawab banyak pertanyaan.
Dari “empat W” menjadi “lima W” (What,
Who, Where, When, Why.”)
Kemudian, tambah lagi “satu H.” Rumusnya
menjadi: “lima W + 1 H” (5W+ 1H).
What -
Apa yang terjadi
Who -
Siapa yang terlibat dalam kejadian
itu
When -
Kapan kejadian itu berlangsung
Where - Di mana tempat kejadian itu
Why -
Kenapa sampai terjadi demikian
How -
Bagaimana kejadian itu berlangsung.
Tuntutan zaman semakin berkembang dan kritis.
Kini, tak cukup lagi dengan “5W+1H.” Masih perlu diperhatikan tiga hal :
1. Latar belakang (background):
Berita tak menjadi picik, dangkal, datar saja, tapi berisi dan ada pendalaman (depth). Latar belakang ini diambil dari persediaan yang dimiliki wartawan. Latar belakang ialah keterangan yang dapat memberi arti kepada berita itu.
2. Tafsiran (interpretation):
Batasan antara latar belakang dan tafsiran sangat tipis atau kabur. Keduanya bertujuan sama untuk lebih melengkapi informasi satu kejadian. Dalam memberikan tafsiran berpegang pada fakta-fakta dan bukan tonjolkan perasaannya sendiri. Hormati hak pembaca untuk menimbang sendiri sikap dan pendapat mereka. Cara lain yakni meminta keterangan atau pendapat dari para ahlinya atau pihak-pihak yang mengerti tentang kejadian itu.
3. Warna (colour, suasana, atmosphere).
v Memasukkan unsur-unsur ke dalaman berita sehingga
lebih hidup dan menarik pembaca. Warna dan suasana dapat menimbulkan gambran
yang hidup dan terang ke dalam pikiran pembaca.
v Pemakaian kata-kata yang mempunyai daya untuk
menimbulkan gambaran lebih jelas kepada pikiran pembaca.
v Pembaca dapat membayangkan suasana tempat kejadian
itu, gambaran orang-orang yang terlibat di dalamnya, dan perasaan orang-orang
yang tersangkut, dengan cara mendeskripsikannya.
E. Tiga kelompok Berita
1. Spot News/Straight News (berita lempang) yakni laporan kejadian sekedar mengandung unsur-unsur “5W + 1H.”
2. Depth News (interpretative report) yakni berita cukup kompleks. Jenis berita ini berisi fakta-fakta yang lengkap, mendalam dan komprehensif. Selain memuat data elementer, juga dilengkapi dengan latar belakang, interpretative (tafsiran) dan warna, suasana.
3. Precision Journalism (jurnalisme presisi) : Aliran jurnalisme baru yang muncul tahun 1970-an. Tujuan jurnalisme ini untuk mengejar obyektivitas dan ketepatan satu berita. Menggunakan penelitian sebagai salah satu alat untuk menyajikan obyektivitas dan ketepatan.
Banyak surat kabar/majalah menyajikan penelitian kuantitatif sebagai dasar tulisannya. Kemudian, berkembang pengumpulan pendapat atau public opinion polling.
Wartawan kini dituntut menguasai teknik-teknik
penelitian dan sekaligus dapat mengolah serta menganalisisnya untuk disuguhkan
menjadi berita yang dijamin obyektif dan ketepatannya.
Catatan:
Perkembangan pengertian “berita” terjadi sesuai tingkat dan tuntutan dinamika
masyarakat. Demikian seterusnya, konsep pengertian mengenai “berita” menuntut
tingkat profesionalisme wartawan yang lebih tinggi dan rasa tanggung jawab lebih
besar.
F. SIFAT–SIFAT BERITA
Sebuah berita harus memiliki sifat-sifat
hakiki
1. Harus tepat (accurate) :
۩
Laporan yang
tepat mengenai satu peristiwa.
۩
Tepat menyebut
hari, jam dan tempat kejadian.
۩
Tepat menulis
nama dan jabatan atau pangkat seseorang.
۩
Tepat menulis
bagian-bagian kejadian secara rinci dan
tepat pula menempatkan bagian-bagian yang perlu ditonjolkan dan bagian mana
yang harus menyusul.
۩
Tergambar
peristiwa tersebut dalam satu keutuhan.
۩
Ini bukan tugas
mudah. Sebab, tak ada peristiwa yang strukturnya sederhana, tidak terjalin
dalam kaitan dengan peristiwa lain atau tokoh-tokok tertentu.
2. Harus berimbang (balanced)
:
@ Berita harus mencerminkan peristiwa seutuh
mungkin.
@ Semua bagian peristiwa mendapat bagian yang
adil dan semua pihak yang terlibat tidak
dilupakan.
@ Pembaca dapat gambaran yang berimbang dan
benar.
3. Harus obyektif (objective)
:
Berita, laporan mengenai satu peristiwa
seperti apa adanya.
Bukan pendapat atau pandangan wartawan
terhadap satu peristiwa.
Wartawan harus tetap memegang obyektivitas
sebagai prinsip berita.
Wartawan harus menyadari bahwa beritanya bisa
digunakan masyarakat sebagai dasar yang benar untuk menentukan sikap dan
mengambil tindakan.
Obyektivitas merupakan prinsip kerja wartawan.
Ia hanya bisa dikalahkan oleh pertimbangan
dan kepentingan lebih tinggi atau besar.
Dalam kasus tertentu, objektivitas saja tak
cukup membuat satu berita yang baik.
Masih diperlukan penggalian dan pendalaman atau interpretasi harus dilakukan.
Dari laporan peristiwa seperti ilmiah, dikenal
sebagai bentuk laporan “depth report” dan “interpretive report”.
4. Harus padat dan
jelas (concise and clear)
@ Berita yang baik harus mudah ditangkap pembaca
secara jernih dan jelas.
@ Ia harus merupakan satu kesatuan yang memiliki
keterpaduan logis, ditulis secara padat, jelas, dan sederhana, tidak rumit
berbelit-belit.
@ Strukturnya harus runtun dan jelas. Bahasanya
lancar, singkat dengan pilihan kata yang
tepat (bahasa yang efektif).
5. Harus aktual (recent)
Tidak ketinggalan waktu. Sebab, waktu unsur
terpenting dalam penulisan berita.
Waktu juga merupakan titik persaingan antar
surat kabar.
Karena itu “deadline” menjadi
“diktator” yang mempunyai kekuasaan mutlak terhadap kehidupan wartawan.
Tugas berpacu dengan waktu menjadi lebih berat
lagi dengan perkembangan teknologi komunikasi yang amat pesat.
Untuk mengungguli media elektronika. Wartawan
media cetak terpaksa harus mencari pendalaman dan informasi-informasi tentang
peristiwa yang kurang dapat disajikan secara analisis oleh media elektronik.
G. NILAI BERITA
BERITA: “Laporan tentang kejadian yang
“menarik”
Yang dimaksud “menarik” di sini, berita itu
mampunyai arti atau nilai. Arti atau nilai suatu berita ditentukan beberapa
faktor;
1. Waktu/Aktualitas
(timeliness)
@ Semua berita harus cepat disiarkan. Peristiwa
hari ini mempunyai nilai lebih besar di banding peristiwa hari kemarin,
seminggu lalu atau setahun lalu.
@ Semakin dekat waktunya, semakin besar
harganya.
@ Meski kejadian itu penting, jika terlambat
menyiarkan akan berkurang nilainya.
2. Kedekatan/Jarak
(proximity) peristiwa:
Berita nilainya makin besar bagi pembaca
menurut perbandingan jauh dekatnya tempat berita terjadi.
Kedekatan tidak hanya dalam arti jarak fisik,
juga bisa dalam arti psikologis
3. Luas
akibatnya/dampak (Consequence) :
Kejadian-kejadian besar, yang luas akibatnya
(dampak) menentukan nilai suatu berita.
Contoh:
& Peristiwa kerusuhan di Medan
& Peristiwa tabrakan Kereta Api (Bintaro dan
Ciateyem, Bogor)
& Peristiwa gempa bumi di Liwa, Lampung
& Tsunami di Aceh dan Nias, tewaskan ratusan
ribu jiwa.
4. Arti
berita :
Nilai suatu berita juga ditentukan oleh arti
berita dikaitkan dengan kepentingan umum.
Contoh:
Peristiwa pembukaan seminar atau penataran
lebih kecil nilainya dari kejadian ambruknya jembatan Ampera.
5. Politik/Kebijakan
Redaksional/Editorial:
Ø Satu berita dinilai amat penting oleh satu
surat kabar jika berita tersebut sesuai dengan pendirian politik atau ciri yang
dianut (kebijakan editorial) oleh surat kabar tersebut.
6. Kaganjilan-keganjilan/Keluarbiasaan/
Keanehan:
Ø Segala kejadian di masyarakat meskipun kecil,
tapi aneh dan ganjil akan menjadi semakin menarik bagi pembaca
Ø Semakin ganjil atau gaib yang terjadi, maka
semakin besar nilai beritanya.
Ø Hukum alam, manusia selalu tertarik pada
hal-hal aneh dan ajaib yang
mengherankan pikirannya.
7. Pertentangan
(konflik):
Konflik merupakan peristiwa yang selalu
mempunyai nilai berita.
Hukum alam, sejak dulu kala manusia sangat
tertarik atau senang terhadap pertentangan atau mengandung konflik.
Pertentangan baik dilakukan antar sesama
manusia atau pertentangan manusia dengan binatang dan binatang dengan binatang.
Pertentangan di sini tak hanya berupa fisik,
juga non fisik yakni polemik tentang konsep demokrasi atau kabudayaan Barat dan
Timur, dan lain-lain.
8. Sex
:
@ Berita-berita tentang percintaan, pertunangan,
perkawinan, perceraian selalu menarik perhatian pembaca.
@ Pengertian sex di sini bukan hanya diartikan
“nafsu birahi” yang pornografis. Tapi
ditinjau dari sudut perhatian laki-laki dan perempuan terhadap diri
masing-masing dan perhubungan antarmereka.
9. Orang-orang
penting (Prominence) :
Orang-orang penting lebih bernilai berita
daripada yang lainnya. Karena itu para selebriti, politisi, dan tokoh-tokoh
lain -yang berada di arena publik atau mata publik- senantiasa bernilai berita.
Prominence
juga dapat ditentukan oleh fakta, daripada orang yang terlibat. Misalnya, piala
Thomas Cup lebih prominent daripada Dekan Cup.
10. Perasaan
Manusia (human interest):
Berita-berita yang bisa menggerakkan perasaan
hati manusia menjadi kagum, benci, marah, senang, gembira, tertawa, merasa lucu
dan sebagainya, selalu punya nilai berita.
11. Kemajuan/Hal
baru (Novelty):
Segala langkah kamajuan dalam peradaban,
penghidupan dan ilmu pengetahuan senantiasa besar nilai baritanya.
H. JENIS-JENIS BERITA
1. Berita
spontan (real event)
Pesawat terbang
tiba-tiba jatuh
Topan mengamuk,
gempa dan tsunami melulu-lantakan kota atau desa seperti di Aceh dan Nias,
menewaskan ratusan ribu jiwa penduduk
Banjir melanda
banyak daerah memusnahkan ribuan hektar
tanaman padi dan menenggelamkan ribuan rumah penduduk.
Peristiwa lainnya
tak bisa diramalkan tentang kematian seseorang, siapa pun dia entah tokoh atau
orang biasa, dapat meninggal dunia kapan dan di mana saja.
Peristiwa seperti
ini menghasilkan berita secara spontan. Unsur surprisenya tinggi. Sering juga
berita seperti ini disebut hard news sebagai pembeda dengan soft news
yang unsur surprisenya lebih sedikit.
2. Pseudo
event (press conference, meet the press, press release)
Peristiwa yang
memang sengaja diciptakan untuk menghasilkan berita. Jika tidak disengaja,
berita tidak muncul. Peristiwa ini tidak terjadi secara spontan, melainkan
telah direncanakan lebih dulu.
Pihak penyelenggara
konferensi pers telah merancang sebelumnya tentang apa yang akan atau tidak
disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya.
Jika tidak dengan
sengaja, maka peristiwa yang diberitakan itu tidak akan ada. Peristiwa itu ada,
karena dijadikan berita atau dimuat oleh media. Jika tidak, maka berita itu
tidak ada.
Berbagai kegiatan
promosi termasuk dalam kelompok jenis berita
ini. Kampanye misalnya, meskipun menghasilkan berita, namun tidak
mengandung unsur surprise.
3. Berita
terjadwal (scheduled events):
Hari bersejarah atau
ulang tahun satu negara, pemerintah kota, provinsi, kabupaten atau ulang tahun
seorang tokoh terkenal dapat menjadi bahan berita.
Sejumlah tanggal
yang mempunyai latar belakang sejarah selalu diperingati atau dikenang kembali.
Setiap kali tanggal tersebut tiba, media massa dapat merancang liputan berita yang berkaitan dengan
peristiwa sejarah tersebut.
Hari-hari bersejarah
kenegaraan, berlatar belakang keagamaan dan hari-hari penting lainnya, dapat
dirancang untuk membuat berita bagi wartawan.
4. Berita
asal/pertama (original/initial news):
Ø Berita ini terkadang
hanya berita singkat, tapi ternyata
kejadian yang diberitakan itu ditindaklanjuti dengan berita-berita berikutnya.
5. Berita
lanjutan (follow-up news):
Ø Banyak kejadian atau
suatu berita harus ditindaklanjuti. Berita jenis ini, masuk ke dalam kelompok
“berita lanjutan.” Kelanjutan berita ini, bahkan tidak jarang berlanjut sampai
serial berhari-hari dimuat di media massa.
Ø Peristiwa tertentu
yang berbuntut panjang, biasanya diliput terus dari hari ke hari. Tidak hanya
oleh satu media, melainkan beberapa media secara bersamaan.
Ø Masyarakat menanti
dan berharap, agar mendapatkan kejelasan dan akhir dari peristiwa tersebut.
Ø Berita tentang
skandal Watergate yang menyebabkan jatuhnya presiden AS Nixon hingga
kini belum juga tamat.
Ø Baru-baru ini
mahasiswa jurnalisme dari satu Universitas di AS menemukan nama disebut sebagai
Deepthroat. Begitu pula berita yang terkait pembunuhan terhadap Presiden
Kennedy, tetap dimuat oleh media.
I. SUMBER
BERITA
Hati-hati “manipulasi” sumber berita:
Setiap berita yang
berbobot dan baik, harus menyebutkan sumber berita yang jelas. Hati-hati ada
“manipulasi” atas sumber berita yang dirahasiakan.
Harus menghormati
sumber berita yang ingin dirahasiakan (karena dinilai kedudukan dan keselamatan
jiwanya terancam).
Sumber berita,
sebenarnya bisa datang dari mana saja dan siapa pun mereka.
Sumber Kebetulan
Seorang wartawan
koran The Washington Post sedang meliput sidang pengadilan. Kasus yang
diadili sebenarnya biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa atau indikasi akan
adanya berita besar. Namun, si wartawan ini orangnya jeli. Ia menemukan clue
atau petunjuk bahwa ada sesuatu di balik peristiwa kecil ini.Ia pun melacak
lebih jauh.
Kejadian inilah,
awal terbongkarnya kasus Watergate yang menjatuhkan Nixon dari kursi
Presiden AS. Hingga kini, seorang yang disebut dengan nama samaran Deepthroat
masih misteri.
Sumber wartawan sendiri:
Sumber memang
“ditemukan” sendiri oleh si wartawan. Seorang wartawan sedang berjalan kaki di
dekat kantornya dan menemukan kejadian mobil bertabrakan, menewaskan lima orang
penumpangnya.
Dalam menulis berita
ini, dia tidak perlu mengutip dari sumber lain lagi. Si wartawanlah yang
menjadi sumber berita itu bila ia menyaksikan sendiri peristiwa tersebut.
Dari Tip Orang:
& Bermula dari tip
seorang kenalan atau teman. Dari sedikit info atau fakta inilah, oleh wartawan yang jeli dan gigih langsung
digali dan dikembangkan lebih dalam.
& Tidak mustahil dari
berita sedikit fakta itu, kemudian dapat menjadi berita bernilai besar.
Hasil Riset:
Berita dapat
bersumber dari hasil riset tentang sesuatu atau jajak pendapat (opinion
polling) mengenai persoalan yang tengah ramai dibicarakan masyarakat.
Sumber orang ketiga:
v Berita mengenai
skandal, bisa bersumber dari orang ketiga, atau dari salah satu pelaku atau
kedua-duanya. Ada sumber berita yang bersedia disebutkan identitasnya dan ada
yang menolak.
v Wartawan patut
menghormati untuk merahasiakan namanya. Jika ini terjadi, maka semua akibat
hukum yang mungkin timbul, harus diambil alih sepenuhnya oleh wartawan.
J. CARA MENDAPATKAN BERITA
& Tugas dan kewajiban
wartawan yakni mencari, menggali dan mengembangkan berita. Dalam diri wartawan,
tersimpan potensi “naluri kewartawanan” yang selalu ingin tahu segala sesuatu.
& Dari sinilah,
wartawan perlu melakukan serangkaian wawancara dengan berbagai narasumber untuk
mencari, menggali dan mengembangkan berita.
& Tidak semua orang
memiliki kemampuan memprediksi akan ada berita. Hanya mereka yang terlatih dan
berpengalaman, dengan bekal-bekalnya itu dapat menduga, di suatu tempat akan
ada berita.
& Kemampuan ini,
dibantu oleh pengetahuan tentang peristiwa sebelumnya. Ketajaman mencium akan
terjadinya suatu berita (nose for news) biasanya dimiliki oleh wartawan
berpengalaman dan terlatih.
& Si wartawan mengusahakan berada di lokasi yang
menurut perkiraannya akan menjadi tempat terjadinya peristiwa. Misalnya, lokasi
perang, bencana alam dan sebagainya.
& Dikenal juga adanya
“indera berita” (sense of news). Wartawan yang terlatih dan memiliki
“banyak jam terbang” memiliki “indera
berita” kapan dan di mana pun ia berada. Indera berita ini seakan menuntun
wartawan tersebut dalam menentukan berita untuk ditulis.
K. MENULIS BERITA
Menulis laporan atau
menyusun berita yang baik diperlukan dua tahap:
Pertama:
Memiliki kemampuan
intelektual, dapat menangkap berita secara lengkap.
Syaratnya, memiliki
kemahiran melihat persoalan secara
tajam, dapat membuat perbandingan, bisa menempatkan diri dalam satu jarak dengan obyek pemberitaan
serta memiliki daya kritis.
Kedua :
Ø Memiliki kemampuan
bahasa untuk menyusun laporan dalam
bahasa yang jernih atau jelas,
kalimatnya sederhana atau padat dan pilihan kata yang tepat.
Tiga cara teknik
penulisan berita:
1. Cara
piramida ke atas
q Berita ditulis
kronologis, dari permulaan kejadian hingga ke puncaknya.
q Cara piramida ini,
tak digunakan lagi karena dinilai ketinggalan zaman.
2. Cara
piramida terbalik
q Sistem ini banyak
digunakan sekarang.
Berita ditulis mulai dari bagian
paling penting, bagian paling dramatis atau yang paling kuat. Setelah itu,
menyusul bagian-bagian berita penting lainnya dan sampai akhirnya menempatkan
bagian berita yang kurang penting.
3. Cara
paralel
q Sistem menyusun berita secara paralel yaitu
menyusun berita tanpa mendahulukan
mana yang lebih penting dari yang lain.
q Sistem ini dipakai jika dianggap bahwa dalam
berita ada bagian berita yang sama pentingnya.
Catatan:
v Dari tiga cara menyusun berita, yang paling
ideal dan banyak digunakan surat kabar yakni “piramida terbalik”.
v Menulis berita dengan cara “piramida terbalik”
memungkinkan dilakukannya penyusutan
fakta menurut nilainya masing-masing. Artinya, makin tidak penting fakta
tersebut, makin ke bawah letaknya.
v Cara penulisan berita dengan struktur dan
komposisi “piramida terbalik” disebut juga sebagai struktur apa yang disebut
“berita ringan” (soft news).
v Berita ditulis atau tersusun “mangalir seperti
sungai.” Ia juga dapat dilukiskan sebagai garis lurus yakni; Ada: awal –
klimaks – akhir.
v Menulis berita itu perlu dihiasi dengan
detail. Membubuhkan detail-detail itu untuk membuat “setori” jadi menarik, dan
tidak mengganggu mengalirnya garis lurus yang dianggap “benang cerita” itu.
Selain tiga cara penulisan di atas, berikut
ini diketengahkan dua teknis penulisan,
masing-masing untuk “interpretative news” dan “human interest news”.
1. Interpretative news :
q Cara yang sama dilakukan juga pada penulisan “interpretative
news” (berita yang diberi penjelasan).
q Kalau pada “soft news” harus ada “elaboration”
berupa rincian, maka pada “interpretative news” harus ada “elaboration”
berupa penjelasan.
q Mac Dougall (C.D.1967. Interpretative
reporting. Mac Millan, New York. 4th edition) memandang “interpretative
news” sebagai berita fakta,
peristiwa atau kejadian yang diberi interpretasi (penjelasan atau latar
belakang lahirnya fakta, peristiwa atau kejadian)
q Kejadian dipandang sebagai salah satu mata
rantai yang mempunyai penyebab dan akibat. Latar beakang ini dipakai untuk
memperjelas kedudukan fakta (peristiwa
atau kejadian), sehingga rangkaian sebab-akibat yang melahirkan fakta itu dapat
diketahui.
q Penulis “interpretative news”
memperluas cakrawala berita dengan menjelaskan lebih mendalam apa-apa yang
diberitakannya itu.
q Dalam struktur (lihat gambar di bawah ini)
“lead” disusul langsung oleh fakta-fakta
yang hendak dituturkan, lalu
diakhiri dengan penjelasan-penjelasan pada
akhir tulisan.
q Penjelasan “apa sebab” dan “apa akibat” tidak
mesti berasal dari penulis sendiri. Boleh juga dari pakar di bidangnya yang
diminta penjelasan.
Catatan:
Dua hal perlu diperhatikan oleh penulis “interpretative
news”:
q Penulisannya mutlak perlu menguasai bidang
keilmuan yang akan ditulis, agar mampu menulisnya berdasarkan pengetahuan yang
mendalam dan kejelian terhadap fakta di bidang itu.
q Ia harus mampu dan mau menyertakan data
informasi yang berkaitan erat dengan fakta yang dikemukakan.
2. Human interest news :
Di Amerika, para jurnalis membedakan antara “hard
news” (berita aktual yang menggebrak) dengan “soft news” (berita
santai yang tak mengejutkan karena tidak spektakuler).
Contoh :
q Peluncuran pesawat ruang angkasa ulang alik
dari Cape Caneveral adalah hard news.
q Sedangkan modeshow di Paris “softnews”
q Berita seorang ibu guru ikut pesawat ulang
alik yang meledak di angkasa, merupakan “human interest news.” Berita
yang menyangkut sisi kehidupan orang yang menyentuh rasa ini, kalau disusun
sebagai tulisan berita disebut human interest news.
q Ia timbul dari berita aktual yang sudah
dianggap oleh wartawan surat kabar yang tak sempat menulis hal-hal yang tidak
menggebrak.
q Hal yang tidak menggebrak, kalau ditulis
sebagai human interest news malah lebih disenangi pembaca daripada berita
gebrakannya. Soalnya, orang memang senang membaca tulisan tentang orang.
q Struktur tulisan human interest news
mirip dengan interpretative news yaitu piramida terbalik berisi fakta
yang diberi penjelasan. Tapi dalam human interest news ini penjelasan
berupa pelukisan suasana yang menyentuh. Biasanya, dikemukakan sesuai
kebutuhan, sesudah setiap penulisan fakta.
L.
TERAS BERITA
Dalam
manulis berita menurut “piramida terbalik,” wartawan harus mampu mengangkat
intisari suatu berita untuk dijadikan “lead” atau “teras berita”
(intro).
Karya
Latihan Wartawan (KLW) di Jakarta, PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) berhasil
merumuskan “10 Pedoman Penulisan Teras Berita”. Di bawah ini dikutip lengkap:
1. Teras berita
yang menempati alinea pertama atau paragraph pertama harus mencerminkan
pokok terpenting berita. Alinea atau paragraph itu dapat terdiri lebih
satu kalimat.
2. Teras
berita, dengan mengingat sifat bahasa Indonesia, jangan mengandung lebih
dari antara 30 dan 45 perkataan. Apabila teras berita singkat, misalnya
terdiri dari 25 perkataan atau kurang dari itu maka hal itu lebih baik.
3. Teras berita harus ditulis begitu rupa
sehingga:
- Mudah
ditangkap dan cepat dimengerti, mudah diucapkan depan radio, televisi dan
mudah diingat.
- Kalimat-kalimatnya
singkat, sederhana susunannya, dengan mengindahkan bahasa baku serta
ekonomi bahasa, jadi menjauhkan kata-kata mubazir.
- Jelas
melaksanakan ketentuan “satu gagasan dalam satu kalimat.”
- Tidak
mendomplengkan atau memuatkan sekaligus semua unsur “3A” dan “3M” (Apa,
Si-apa, Meng-apa, Bila-mana, Di-mana, bagai-mana).
- Dibolehkan
memuat lebih dari satu unsur daripada “3A-3M.”
4. Hal-hal
yang tidak begitu mendesak, namun berfungsi sebagai penambah atau pelengkap
keterangan, hendaknya dimuat dalam badan berita.
5. Teras berita,
sesuai dengan naluri manusia yang ingin segera
tahu apa yang telah terjadi, sebaiknya mengutamakan unsur “Apa.”
Jadi,
disukai teras berita yang memulai dengan unsur “Apa.” Unsur “Apa” itu diberikan
dalam ungkapan kalimat sesingkat mungkin yang menyimpulkan/mengintisarikan
kejadian yang diberitakan.
6. Teras
berita juga dapat dimulai dengan unsur “Siapa,” karena selalu menarik perhatian
manusia. Apalagi kalau “Siapa” itu ialah seorang yang jadi tokoh di bidang
kegiatan dan lapangannya. Akan tetapi kalau unsur “Siapa” itu tidak begitu
menonjol, maka sebaiknya ia tidak dipakai dalam permulaan berita.
7. Teras berita
jarang mempergunakan unsur “Bilamana” pada permulaannya. Sebab, unsur waktu jarang merupakan bagian yang menonjol dalam suatu kejadian.
Unsur
waktu hanya dipakai sebagai permulaan teras berita, jika memang unsur itu
bermakna khusus dalam berita itu.
8. Urutan
unsur dalam teras berita sebaiknya unsur “Tempat” dahulu, kemudian disusul oleh
unsur “Waktu.”
9. Unsur “Bagaimana”
dan unsur “Mengapa” diuraikan dalam badan berita, jadi tidak dalam teras
berita.
10. Teras berita
dapat dimulai dengan kutipan pernyataan seseorang (quotation lead),
asalkan kutipan itu tidak suatu kalimat panjang. Dalam alinea berikut hendaknya
segera ditulis nama orang itu dan tempat serta kesempatan dia membuat
pernyataan.
Contoh
menulis “teras” berita:
Dari
“10 Pedoman Penulisan Teras Berita,”
kini dapat membuat aneka macam gaya penulisan “teras berita.”
Unsur-unsur dari “5W dan 1H” bisa dijadikan gaya penulisan “teras berita.”
Contoh: Peristiwa acara pembukaan penataran wartawan
Ibu Kota di Safari Garden, Cisarua, Bogor oleh Gubernur KDKI Jakarta Sutiyoso.
Peristiwa tersebut dapat dibuat macam-macam “teras berita” sebagai berikut;
Teras
Berita “Apa” (What):
Penataran
wartawan Ibu Kota dibuka resmi oleh Gubernur KDKI Jakarta Sutiyoso di Safari
Garden, Cisarua Bogor, Selasa pagi.
Kepada
wartawan Ibu Kota, Sutiyoso meminta agar wartawan ikut aktif melakukan
pengawasan sosial secara kritis dan membangun. “Tanpa adanya kritik, bisa saja
pembangunan akan macet di tengah jalan,” ujarnya tegas.
Teras
Berita “Siapa” (Who):
Gubernur
KDKI Jakarta Sutiyoso membuka penataran wartawan Ibu Kota, di Safari Garden,
Cisarua, Bogor, Selasa pagi.
Menurut
Sutiyoso, kota Jakarta tidak akan dibangun meniru kota Bangkok atau Singapura.
“Jakarta ke depan harus menjadi kota metropolitan yang lebih memperhatikan
manusia dan kemanusiaan,” tegasnya.
Teras
Berita “di-mana” (Where):
Di
Safari Garden, Cisarua, Bogor, Selasa pagi, dibuka penataran wartawan Ibu Kota
oleh Gubernur KDKI Jakarta Sutiyoso.
Di
depan para peserta penataran itu, Sutiyoso meminta agar wartawan ikut aktif
mengawal dan mewujudkan cita-cita
membangun Jakarta sebagai kota metropolotan berciri khas “keberagaman dan kemanusiaan.”
Teras
Berita “Kapan” (When):
Selasa
pagi, Gubernur KDKI Jakarta Sutiyoso membuka penataran wartawan Ibu Kota di
Safarai Garden, Cisarua, Bogor.
Menurut
Sutiyoso, Jakarta yang memiliki penduduk
sangat padat dan beragam dewasa ini
menyimpan banyak masalah sosial. Karena itu, wartawan Ibu Kota diminta agar
aktif melakukan kontrol sosial secara kritis dan membangun.
Teras
Berita “Meng-apa atau Bagai-mana” (Why dan How):
Guna
meningkatkan keterampilan dan wawasan jurnalistik wartawan Ibu Kota, Gubernur KDKI
Jakarta Sutiyoso membuka penataran wartawan anggota PWI Jaya, di Safari Garden,
Cisarua, Bogor, Selasa pagi.
Sebagai
wartawan yang sehari-hari meliput perkotaan, Sutiyoso meminta, agar
peserta lebih memperluas wawasan dan
ketrampilan meliput problematik Jakarta.
Teras
Berita “Kutipan pernyataan” (quotation lead):
Jakarta
tidak akan dibangun seperti kota Singapura atau Bangkok karena dapat
membahayakan nilai-nilai kepribadian bangsa. Kita harus mengembangkan kota yang
lebih manusiawi, di mana unsur manusia dan kemanusiaan mempunyai tempatnya yang
terhormat.
Demikian
Gubernur KDKI Jakarta Sutiyoso di depan para peserta penataran wartawan Ibu
Kota di Safari Garden, Cisarua, Bogor, Selasa pagi.
Selain
macam-macam “teras berita” yang dikembangkan dari rumus “5W dan 1H,” oleh para
wartawan dan ahli-ahli jurnalistik dikembangkan macam “teras berita” yang lain.
Pengembangan macam “teras berita” tujuannya
untuk memberi kesegaran atau variasi kepada surat kabar. Berikut ini
contoh-contoh “teras berita” di luar rumus “5W dan 1H”:
Teras
Berita yang “menjerit” (Exclamation Lead):
“Aduh,”
demikian jerit gadis-gadis yang memenuhi Jalan Thamrin dalam pesta semalam
suntuk untuk memperingati hari jadi kota Jakarta ke-446, Sabtu malam.
Teras
Berita “kontras” (Contrast Lead):
Kerawang,
gudang beras di Jawa Barat kini mengalami kelaparan untuk pertama kalinya.
Rakyat tidak lagi makan beras, melainkan melahap eceng gondok.
MENULIS
TUBUH BERITA:
Ø Menulis berita antara “teras berita” dengan
“tubuh berita” harus merupakan rangkaian jalinan yang utuh. Artinya, kalimat
demi kalimat atau dari alinea satu ke alinea yang lain, harus saling melengkapi
dan menjelaskan.
Ø Penulisan berita dengan struktur dan komposisi
“piramida terbalik” disebut juga sebagai struktur “berita ringan” (soft news).
Berita ditulis atau tersusun “mengalir seperti sungai.” Ia juga dapat
dilukiskan sebagai garis lurus yakni:
Ada: Awal-Klimaks-Akhir.
Ø Menulis berita perlu dihiasi dengan detail.
Membubuhkan detai-detail itu, agar “setori” menjadi menarik, dan tidak
mengganggu mengalirnya garis lurus yang dianggap “benang cerita” itu.
Ø Penulisan berita, merupakan kesatuan cerita
yang ditulis dengan gaya bahasa dan kesatuan gagasan. Materi yang tidak relevan
dengan satu gagasan berita pokok, sebaiknya dihindarkan.
Djafar
H. Assegaf dalam bukunya Jurnalistik Masa Kini memberikan pedoman yang
perlu diperhatikan dalam menulis berita yakni lima pegangan pokok sebagai
berikut:
Pertama
: Laporan berita harus bersifat
menyeluruh.
Kedua :
Ketertiban dan keteraturan mengikuti struktur penulisan berita.
Ketiga :
Tepat di dalam penggunaan bahasa dan tata bahasa.
Keempat
: Ekonomi kata harus diterapkan.
Kelima :
Gaya penulisan haruslah hidup, punya makna, warna dan imaginasi.
Yap,
itu semua bahan dari pertemuan kuliah pertama sampe sebelum UTS, semoga
berguna! Daahhh ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar