Pengantar
Semiotika
Semiotika
Pendahuluan
Dalam pembicaraan mengenai semiotika sebagai ilmu, ada
semacam “ruang kontradiksi” yang secara historis dibangun di antara dua “kubu”
semiotika, yaitu Semiotika Kontinetal Ferdinand deSaussure dan Semiotika
Amerika Charles Sander Pierce.
Seakan-akan eksistensi kedua kubu semiotika ini dapat
direduksi berdasarkan kerangka Oposisi
Biner; antara Signifikasi vs Komunikasi, statis vs dinamis, konvensional vs
progresif.
Cont..
Pembacaan ulang (rereading)
yang dilakukan oleh berbagai ahli semiotika terhadap kedua tokoh-tokoh tersebut
memperlihatkan , bahwa perbedaan eksklusif dan oposisi biner tersebut
sesungguhnya tidak “sehebat” sebagaimana yang digambarkan. Pembacaan mendalam
terhadap Saussure dan Peirce justru memperlihatkan bahwa kedua tokoh semiotika
ini sesungguhnya tidak saling “berseteru”, melainkan saling mengisi dan
melengkapi.
Cont..
Oleh Saussure, ilmu tentang tanda dinamainya semiology
oleh Peirce, yang lebih berkembang di Amerika,
menghadirkannya dalam peristilahan semiotic.
Keduanya merujuk pada kata semeion dalam
bahasa Yunani yang berarti tanda.
Cont..
Dalam kerangka Saussure, tanda memiliki dua dimensi yang
senantiasa bersangkut-paut satu sama lain.
satu dimensi yang menjadi ekspresi atau bentuk tanda,
disebut signifie,
satu dimensi yang merupakan konsep atau makna dalam benak
saat menginternalisasi ekspresi tertentu, yang disebut signifiant.
Hanya melalui hubungan antara signifie dan signifiant inilah,
maka tanda dapat dikenali, dan rujukan tertentu terhadap sesuatu dapat terjadi
(signification).
Makanya, semiology yang dikembangkan
oleh Saussure, seringkali disebut kini sebagaisignification semiotics (semiotika
signifikasi).
Semiotika Komunikasi
Menurut Umberto Eco dalam A Theory of semiotics adalah
semiotika yang menekankan pada aspek “produksi tanda”, ketimbang “sistem
tanda”.
“Tanda” dalam pandangan Pierce selalu berada di dalam
proses perubahan tanpa henti, yang disebut proses “semiosis tak terbatas”,
yaitu proses penciptaan “rangkaian interpretant yang tanpa akhir” di dalam
sebuah rantai produksi dan reproduksi tanda, yang di dalamnya tanda mendapatkan
tempat hidupnya, bertumbuh, dan berkembang-biak.
Cont...
Peirce melihat adanya pola hubungan dalam tanda (representament).
Hanya saja, apa yang disebut oleh Saussure sebagai signifie,
oleh Peirce justru dipandangnya sebagai object, dan apa yang dinamai
oleh Saussure sebagai signifiant, dalam kacamata Peirce diperluas
sebagai interpretant atau subjek (somebody).
Satu hal yang – meski tidak dirujuk oleh Saussure secara
eksplisit – ditambahkan Peirce dalam kerangka semiotic-nya sebagaiground (konteks),
yakni sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi.
Semiotika “Ekstra-komunikasi”
Ada sebuah “medan bahasa” yang secara sepintas tampak
“melampaui” ruang kontroversi antara
“semiotika signifikasi” dan “semiotika komunikasi” yaitu sebuah “medan ekstra”,
yang untuk itu sebuah neologi semiotika perlu diusulkan, yaitu apa yang disebut
“semiotika ekstra-komunikasi”.
#1
Bahasa harus dipandang sebagai sesuatu yang bersifat
sistemik, karena bahasa tidak dapat ditandaikan berbeda dalam proses
penggunaannya oleh individu saat melangsungkan proses komunikasi.
Bahasa terjalin dalam aturan-aturan khusus yang
disepakati oleh sekumpulan individu dalam ruang sosial yang pula bersifat
sistemik. Bahasa dengan demikian, adalah sebuah sistem di dalam sistem sosial
#2
Individu sebagai pengguna bahasa dalam ruang sosial,
terkadang memiliki dialek terhadap bunyi-bunyi bahasa tertentu dan dapat
membentuk makna-makna baru dari kosakata bahasa dalam sistem sosial.
Sehingga, invidu pengguna bahasa dapat jadi
menginternalisasi bunyi dan makna, secara berbeda dari individu pengguna bahasa
lainnya dalam ruang sosial.
Menurut Saussure, penggunaan bahasa oleh individu dalam
ruang sosial ini disebut parole, dan bahasa dalam bentuknya
sebagai sistem di dalam sistem sosial, disebut langue.
Kecenderungan pertentangan antara semiology
signifikasi Saussure dan semiotika komunikasi Peirce, tidak menunjukkan sebuah
perbenturan pandangan yang satu sama lain menegasi.
Penafsir-penafsir berikutnya atas Saussure dan Peirce,
dapat memberikan titik terang pertemuan antara kedua pandangan dalam
memosisikan beberapa persoalan.
Bagi Peirce tanda “is something which stands to samobody
for something in some respect or capacity”
(sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi)
Peirce mebagi tanda menjadi :
- Qualisign
- Iconic Sinsign
- Rhematic Indexcial Sinsign
- Dicent Sinsign
- Iconic Legisign
- Rhematic Indexcial Legisign
- Dicent Indexcial Legisign
- Rhematic Sysmbol
- Dicent Symbol
- Argument.
Pengantar
Komunikasi Visual
Komunikasi Visual
Komunikasi visual
sesuai namanya, adalah komunikasi
melalui penglihatan.
Komunikasi visual merupakan sebuah
rangkaian proses penyampaian kehendak atau maksud tertentu kepada pihak lain
dengan penggunaan media penggambaran yang hanya terbaca oleh indera
penglihatan.
Komunikasi visual mengkombinasikan
seni, lambang, tipografi, gambar, desain grafis, ilustrasi, dan warna dalam
penyampaiannya.
Fungsi Komunikasi visual
sarana informasi dan instruksi.
menunjukkan hubungan antara suatu hal dengan hal yang
lain dalam petunjuk, arah, posisi dan skala.
sarana identifikasi.
Contoh
peta, diagram, simbol dan penunjuk arah
Informasi akan berguna apabila
dikomunikasikan kepada orang yang tepat, pada waktu dan tempat yang tepat,
dalam bentuk yang dapat dimengerti, dan dipresentasikan secara logis dan
konsisten.
Sebagai sarana presentasi dan
promosi untuk menyampaikan pesan, mendapatkan perhatian (atensi) dari mata
(secara visual) dan membuat pesan tersebut dapat diingat; contohnya poster.
sebagai sarana identifikasi.
Identitas seseorang dapat mengatakan
tentang siapa orang itu, atau dari mana asalnya. Demikian juga dengan suatu
benda, produk ataupun lembaga, jika mempunyai identitas akan dapat mencerminkan
kualitas produk atau jasa itu dan mudah dikenali, baik oleh produsennya maupun
konsumennya.
Cont..
Kita akan lebih mudah membeli minyak
goreng dengan menyebutkan merek X ukuran Y liter dari pada hanya mengatakan
membeli minyak goreng saja.
Atau kita akan membeli minyak goreng
merek X karena logonya berkesan bening, bersih, dan “sehat”.
Cont..
komunikasi visual digunakan untuk
identifikasi lembaga seperti sekolah, misalnya. Maka orang akan lebih mudah
menentukan sekolah A atau B sebagai favorit, karena sering berprestasi dalam
kancah nasional atau meraih peringkat tertinggi di daerah itu.
Cont..
Komunikasi visual memiliki beberapa teori dasar yang
dapat digunakan sebagai patokan dalam menjalankan fungsinya, yaitu teori
sensual (gestalt dan konstruksitivisme) dan perseptual (semiotika dan
kognitif).
#1
Dasar terminologi perlu untuk
menjelaskan beda antara Komunikasi Grafis dengan Komunikasi Visual.
Komunikasi visual merupakan payung dari
berbagai kegiatan komunikasi yang menggunakan unsur rupa (visual) pada berbagai
media: percetakan / grafika, luar ruang (marka grafis, papan reklame),
televisi, film /video, internet dll, dua dimensi maupun tiga dimensi, baik yang
statis maupun bergerak (time based).
Sedangkan Komunikasi Grafis
merupakan bagian dari Komunikasi Visual dalam lingkup statis, dua
dimensi, dan umumnya berhubungan dengan percetakan / grafika.
Linguistik Struktural Roman Jakobson
Roman Osipovich Jakobson, lahir 11 Oktober 1896, adalah
seorang bahasawan dan teorisi kesusastraan. Sebagai seorang bahasawan
strukturalis, dia cukup berpengaruh di paruh pertama abad 20. Minatnya yang luas
di bidang selain linguistik membuahkan pengaruh di bidang semantik, semiotik,
puisi, musik, seni visual dan sinema.
Pemikiran
awalnya yang penting, seperti dipaparkan John Lechte, adalah penekanannya pada
dua aspek dasar struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metator retoris
(kesamaan), dan metonimia (kesinambungan).
Enam Fungsi Bahasa
- Fungsi
referensial, pengacu pesan.
- Fungsi
emotif, pengungkap keadaan pembicara.
- Fungsi
konatif, pengungkap keinginan pembicara yang langsung atau segera
dilakukan atau dipikirkan oleh sang penyimak.
- Fungsi
metalingual, penerang terhadap sandi atau kode yang digunakan.
- Fungsi fatis,
pembuka, pembentuk, pemelihara hubungan atau kontak antara pembicara
dengan penyimak.
- Fungsi
puitis, penyandi pesan.
Langkah Analisis Structural Atas Fonem
- Mencari distinctive
features (ciri pembeda yang membedakan tanda-tanda kebahasaaan satu
dengan yang lain. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada
tidaknya cirri pembeda dalam tanda-tanda tersebut.
- Memberikan
suatu cirri menurut features tersebut pada masing-masing istilah,
sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lain.
- Merumuskan
dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana-dengan
distinctive features yang mana-yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda
kebahasaan tertentu lainnya.
- Menentukan
perbedaan antar tanda yang penting secara pragmatis, yakni perbedaan-perbedaan
antar tanda yang masih dapat saling menggantikan
Fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk
memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis, unit-unit yang bermakna,
dan ini dilakukan dengan mengetahui cirri-ciri pembeda (distinctive features)
dari suatu suara yang memisahkannya dengan cirri-ciri suara yang lain.
Misalnya saja
/c/ dan /j/ dalam pancang dan panjang.
ROLAND BARTHES
Pengantar
Barthes,
lahir di Chevourg
pada tahun 1915
dan meninggal di Paris pada tahun 1980.
Roland
Barthes sangat dikenal
luas sebagai penulis
yang menggunakan analisis
semiotik dan pengembang pemikiran pendahulunya seorang bapak semiologi atau
semiotik Ferdinand de
Saussure.
Pernyataan Barthes yang paling dikenal adalah “La Mort de l’auteur” atau “matinya si
penulis”, The death of the author yang dengan itu ia ingin menggaris-bawahi bahwa
tidak ada otoritasi
interpretasi, dan
interpretasi dapat terus
berjalan.
Buku Mithologie
(mitologi), karya Roland
Barthes merupakan buku
seri yang memuat artikel-artikel yang
sebagian besar dipublikasikan dalam majalah
Les Leures Nouvelles
antara tahun 1954
dan 1956.
Topik-topik
dalam mithologi yang
ditulis Barthes berkisar pada
opini biasa.
Analisis Kritik Ideologi
Dalam salah satu
artikelnya, Barthes membahas tentang “gulat”, yang dikatakannya bahwa
gulat itu adalah sebuah pertunjukan.
Padahal
secara umum gulat merupakan salah
satu cabang olah
raga (lihat Barthes: 1952;15).
Alasannya,
gulat bukan hanya
sebagai olah raga yang
mengandalkan kekuatan pisik
tetapi lebih dari
suatu.
Dalam “gulat” terdapat
dua tingkatan pesan
yakni pertama adalah pesan
“olah raga”, dan
kedua adalah pesan
moral tentang “baik dan
jahat”.
Kedua jenis pesan
tersebut merupakan bagian dari
kepuasan penonton, yakni
kepuasan terhadap konflik tentang “baik dan buruk” yang dikemas dalam
pertunjukan gulat.
sehingga
pesan yang sebenarnya
dalam pertunjukan gulat bukanlah
persoalan estetika tetapi
sudah ke taraf “ideologis”.
artikel
lainnya yang berjudul strip-tease
(Barthes 1972:58) dalam
tarian striptis bukan hanya
mengetengahkan tentang seksualitas tetapi mende-seksualkan perempuan.
Dua topik yang
diketengahkan Barthes
tersebut seolah-olah memuat
pesan yang benar
atau natural tetapi sebenarnya mengandung pesan yang terselubung atau
tersembunyi.
Mitos
Mitos adalah suatu bentuk pesan atau tuturan yang harus
diyakinii kebenarannya tetapi
tidak dapat dibuktikan.
Mitos bukan konsep atau
ide tertapi merupakan
suatu cara pemberian arti.
mitos adalah suatu
sistem komunikasi, yakni suatu
pesan (message), Tetapi mitos
tidak didefinisikan oleh objek
pesan melainkan dengan
cara menuturkan pesan tersebu
Mitologi
terdiri dari semiologi
dan ideologi. Semiologi sebagai formal science dan ideologi
sebagai historical science.
Mitologi mempelajari tentang ide-ide dalam suatu bentuk.
Contoh terkenal, Barthes mengetengahkan Paris-Match. Kepada
seorang tukang cukur
Barthes mengatakan bahwa ia
sedang membaca Paris-Match.
Pada halaman depan ia
melihat gambar seorang
Negro memakai seragam
militer Perancis sedang memberi hormat, dengan gagahnya, matanya
tajam ke
atas.
Untuk
mengetahui atau mendeteksi
mitos dapat dengan cara
mengetahui karakter-karakter mitos
seperti yang dikatakan Barthes
sebagai berikut :
Tautologi
Identifikasi
Neither-norism (bukan ini bukan itu)
Mengkuantitaskan yang kualitas
Privatisasi Sejarah.
Ferdinand de Saussure
Materi Kuliah
Kajian Visual
Komunikasi - Unand
Lahir: 26 November 1857, Jenewa, Swiss
Linguis Swedia dikenal sebagai Bapak Linguistik
Modern dan semiotika.
Konsepnya yang paling terkenal adalah pembedaan tanda
bahasa menjadi dua aspek, yaitu signifiant (yang memaknai) dan signifie (yang
dimaknai).
Sejak kecil, Saussure memang sudah tertarik dalam bidang
bahasa.
Tahun 1880 ia mendapat gelar doktor (dengan prestasi
gemilang: summa cum laude) dari universitas Leipzig dengan disertasi: De
l’emploi du génetif absolu en sanscrit (Kasus Genetivus Dalam Bahasa
Sansekerta)
Dalam semiologi, Saussure berpendapat bahwa bahasa
sebagai “suatu sistem tanda yang mewujudkan ide” dapat dibagi menjadi
dua unsur: langue (bahasa), sistem abstrak yang dimiliki bersama
oleh suatu masyarakat yang digunakan sebagai alat komunikasi, dan parole
(ujaran), realisasi individual atas sistem bahasa.
Sebagai penemu konsep linguistik modern, wajar jika de
Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori
Strukturalisme.
Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya
mengenai hakekat gejala bahasa. Pemikiran ini kemudian
melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang
disebut dengan semiotik (Ahimsa, 2006).
Bahasa
Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena
dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang
berbeda dari kelompok yang lain.
Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi
Levi-Strauss dalam memandang bahasa. Yaitu:
- Signified (tinanda) dan signifier (penanda).
- Form (wadah) dan content (isi).
- Bahasa (Langue) dan Tuturan (Parole)
- Sinkronis (Synchronic) dan Diakronis (Diachronic)
- Sintagmatik dan Paradigmatik
Charles Sanders Pierce
Materi Kuliah
Kajian Visual
Komunikasi - Unand
Charles Sanders Pierce
Lahir : 10 September 1839, Cambridge, Massachusetts,
Amerika.
Pendidikan :
Harvard College, Universitas Harvard, Harvard School of Engineering and Applied
Sciences
Filsuf Amerika yang paling orisinil dan multidimensional.
(Aart van Zoest, 1993;8)
Pemikir yang argumntatif. (Paul Cobley dan Litza Jansz,
1999;20)
Peirce mengemukakan bahwa proses semiosis terjadi karena
adanya tiga hal, yaitu ground, denotatum, dan interpretan.
GROUND
Qualisigns : tanda yang merupakan tanda berdasar pada
suatu sifat.
Sinsign : tanda yang merupakan tanda atas dasar tampilnya
dalam kenyataan.
Ligisign : tanda yang merupakan tanda atas dasar
peraturan.
DENOTATUM
Ikon : hubungan tanda dan acuannya mirip.
Indeks : hubungan tanda dan acuannya berdasar kedekatan
eksistensial.
Simbol : hub tanda dan acuannya ditentukan suatu
peraturan yang berlaku umum.
INTERPRETAN
Rheme : interpretannya berupa sebuah kemungkinan.
Desisign : interpretantnya berupa kebenaran.
Argument : interpretantnya berlaku umum.
A sign, or representamen, is
something which stands to somebody for something in some respect or capacity.
It addresses somebody, that is, creates in the mind of that person an
equivalent sign, or perhaps a more developed sign. That sign which it creates I
call the interpretant of the first sign. The sign stands for something, its
object. It stands for that object, not in all respects, but in reference to a
sort of idea.
Segitiga Pierce
coba kalian beri contoh tanda untuk definisi Peirce.
Caranya, gunakan segitiga itu ya. Misalnya, representamennya apa, objeknya apa,
dan interpretannya apa.
Analisis Tanda Dan Makna Karya Desain Komunikasi Visual
Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan Masyarakat
Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan Masyarakat
Iklan layanan masyarakat (ILM) adalah jenis periklanan
yang dilakukan oleh pemerintah, suatu organisasi komersial ataupun nonkomersial
untuk mencapai tujuan sosial atau sosio-ekonomis, terutama untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. ILM ini misalnya ILM Gerakan Anti Narkoba, Subsidi
Listrik dan Hemat Listrik, Pemilu yang Jujur dan Adil, Kebakaran Hutan, Bencana
Alam, dan sebagainya.
Melalui ILM, orang diajak berkomunikasi guna memikirkan
sesuatu. ILM bersifat memunculkan kesadaran baru yang bersumber dari nurani
individual maupun kelompok tentang hal-hal yang berorientasi lingkungan hidup,
sosial kemasyarakatan, dan kebudayaan.
Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan
Masyarakat
Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan
Masyarakat
Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan
Masyarakat
Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan
Masyarakat
Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan
Masyarakat
Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan
Masyarakat
Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan
Masyarakat
Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan
Masyarakat
Analisis Semiotika Komunikasi Visual Desain Oblong Dagadu
Djokdja
Analisis Semiotika Komunikasi Visual Desain Oblong Dagadu
Djokdja
Analisis Semiotika Komunikasi Visual Desain Oblong Dagadu
Djokdja
Sesi tanya-tanya
Mulya : idiom itu apa saja? Ada berapa? Tolong jelaskan
lebih jauh mengenai “idiom”
-------------------------------
Idiom atau Ungkapan –
-------------------------------
Next...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar