Selasa, 30 September 2014

ž  Pengantar
Semiotika
ž  Pendahuluan
ž  Dalam pembicaraan mengenai semiotika sebagai ilmu, ada semacam “ruang kontradiksi” yang secara historis dibangun di antara dua “kubu” semiotika, yaitu Semiotika Kontinetal Ferdinand deSaussure dan Semiotika Amerika Charles Sander Pierce.
ž  Seakan-akan eksistensi kedua kubu semiotika ini dapat direduksi  berdasarkan kerangka Oposisi Biner; antara Signifikasi vs Komunikasi, statis vs dinamis, konvensional vs progresif.
ž  Cont..
Pembacaan ulang (rereading) yang dilakukan oleh berbagai ahli semiotika terhadap kedua tokoh-tokoh tersebut memperlihatkan , bahwa perbedaan eksklusif dan oposisi biner tersebut sesungguhnya tidak “sehebat” sebagaimana yang digambarkan. Pembacaan mendalam terhadap Saussure dan Peirce justru memperlihatkan bahwa kedua tokoh semiotika ini sesungguhnya tidak saling “berseteru”, melainkan saling mengisi dan melengkapi.
ž  Cont..
ž  Oleh Saussure, ilmu tentang tanda dinamainya semiology
ž  oleh Peirce, yang lebih berkembang di Amerika, menghadirkannya dalam peristilahan semiotic.
ž  Keduanya merujuk pada kata semeion dalam bahasa Yunani yang berarti tanda.
ž  Cont..
ž  Dalam kerangka Saussure, tanda memiliki dua dimensi yang senantiasa bersangkut-paut satu sama lain.
ž  satu dimensi yang menjadi ekspresi atau bentuk tanda, disebut signifie,
ž  satu dimensi yang merupakan konsep atau makna dalam benak saat menginternalisasi ekspresi tertentu, yang disebut signifiant.
ž  Hanya melalui hubungan antara signifie dan signifiant inilah, maka tanda dapat dikenali, dan rujukan tertentu terhadap sesuatu dapat terjadi (signification).
ž  Makanya, semiology yang dikembangkan oleh Saussure, seringkali disebut kini sebagaisignification semiotics (semiotika signifikasi).
ž  Semiotika Komunikasi
ž  Menurut Umberto Eco dalam A Theory of semiotics adalah semiotika yang menekankan pada aspek “produksi tanda”, ketimbang “sistem tanda”.
ž  “Tanda” dalam pandangan Pierce selalu berada di dalam proses perubahan tanpa henti, yang disebut proses “semiosis tak terbatas”, yaitu proses penciptaan “rangkaian interpretant yang tanpa akhir” di dalam sebuah rantai produksi dan reproduksi tanda, yang di dalamnya tanda mendapatkan tempat hidupnya, bertumbuh, dan berkembang-biak.
ž  Cont...
ž  Peirce melihat adanya pola hubungan dalam tanda (representament).
ž  Hanya saja, apa yang disebut oleh Saussure sebagai signifie, oleh Peirce justru dipandangnya sebagai object, dan apa yang dinamai oleh Saussure sebagai signifiant, dalam kacamata Peirce diperluas sebagai interpretant atau subjek (somebody).
ž  Satu hal yang – meski tidak dirujuk oleh Saussure secara eksplisit – ditambahkan Peirce dalam kerangka semiotic-nya sebagaiground (konteks), yakni sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi.
ž  Semiotika “Ekstra-komunikasi”
ž  Ada sebuah “medan bahasa” yang secara sepintas tampak “melampaui” ruang kontroversi  antara “semiotika signifikasi” dan “semiotika komunikasi” yaitu sebuah “medan ekstra”, yang untuk itu sebuah neologi semiotika perlu diusulkan, yaitu apa yang disebut “semiotika ekstra-komunikasi”.
ž  #1
ž  Bahasa harus dipandang sebagai sesuatu yang bersifat sistemik, karena bahasa tidak dapat ditandaikan berbeda dalam proses penggunaannya oleh individu saat melangsungkan proses komunikasi.
ž  Bahasa terjalin dalam aturan-aturan khusus yang disepakati oleh sekumpulan individu dalam ruang sosial yang pula bersifat sistemik. Bahasa dengan demikian, adalah sebuah sistem di dalam sistem sosial
ž  #2
ž  Individu sebagai pengguna bahasa dalam ruang sosial, terkadang memiliki dialek terhadap bunyi-bunyi bahasa tertentu dan dapat membentuk makna-makna baru dari kosakata bahasa dalam sistem sosial.
ž  Sehingga, invidu pengguna bahasa dapat jadi menginternalisasi bunyi dan makna, secara berbeda dari individu pengguna bahasa lainnya dalam ruang sosial.
ž  Menurut Saussure, penggunaan bahasa oleh individu dalam ruang sosial ini disebut parole, dan bahasa dalam bentuknya sebagai sistem di dalam sistem sosial, disebut langue.
ž  Kecenderungan pertentangan antara semiology signifikasi Saussure dan semiotika komunikasi Peirce, tidak menunjukkan sebuah perbenturan pandangan yang satu sama lain menegasi.
ž  Penafsir-penafsir berikutnya atas Saussure dan Peirce, dapat memberikan titik terang pertemuan antara kedua pandangan dalam memosisikan beberapa persoalan. 
ž  Bagi Peirce tanda “is something which stands to samobody for something in some respect or capacity”
   (sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi)
ž  Peirce mebagi tanda menjadi :
  • Qualisign
  • Iconic Sinsign
  • Rhematic Indexcial Sinsign
  • Dicent Sinsign
  • Iconic Legisign
  • Rhematic Indexcial Legisign
  • Dicent Indexcial Legisign
  • Rhematic Sysmbol
  • Dicent Symbol
  • Argument.
ž  Pengantar
Komunikasi Visual
ž  Komunikasi visual
sesuai namanya, adalah komunikasi melalui penglihatan.
Komunikasi visual merupakan sebuah rangkaian proses penyampaian kehendak atau maksud tertentu kepada pihak lain dengan penggunaan media penggambaran yang hanya terbaca oleh indera penglihatan.
Komunikasi visual mengkombinasikan seni, lambang, tipografi, gambar, desain grafis, ilustrasi, dan warna dalam penyampaiannya.
ž  Fungsi Komunikasi visual
ž  sarana informasi dan instruksi.
ž  menunjukkan hubungan antara suatu hal dengan hal yang lain dalam petunjuk, arah, posisi dan skala.
ž  sarana identifikasi.
Contoh
ž  peta, diagram, simbol dan penunjuk arah
Informasi akan berguna apabila dikomunikasikan kepada orang yang tepat, pada waktu dan tempat yang tepat, dalam bentuk yang dapat dimengerti, dan dipresentasikan secara logis dan konsisten.
Sebagai sarana presentasi dan promosi untuk menyampaikan pesan, mendapatkan perhatian (atensi) dari mata (secara visual) dan membuat pesan tersebut dapat diingat; contohnya poster.
ž  sebagai sarana identifikasi.
Identitas seseorang dapat mengatakan tentang siapa orang itu, atau dari mana asalnya. Demikian juga dengan suatu benda, produk ataupun lembaga, jika mempunyai identitas akan dapat mencerminkan kualitas produk atau jasa itu dan mudah dikenali, baik oleh produsennya maupun konsumennya.
ž  Cont..
Kita akan lebih mudah membeli minyak goreng dengan menyebutkan merek X ukuran Y liter dari pada hanya mengatakan membeli minyak goreng saja.
Atau kita akan membeli minyak goreng merek X karena logonya berkesan bening, bersih, dan “sehat”.
ž  Cont..
komunikasi visual digunakan untuk identifikasi lembaga seperti sekolah, misalnya. Maka orang akan lebih mudah menentukan sekolah A atau B sebagai favorit, karena sering berprestasi dalam kancah nasional atau meraih peringkat tertinggi di daerah itu.
ž  Cont..
ž  Komunikasi visual memiliki beberapa teori dasar yang dapat digunakan sebagai patokan dalam menjalankan fungsinya, yaitu teori sensual (gestalt dan konstruksitivisme) dan perseptual (semiotika dan kognitif).
ž  #1
Dasar terminologi perlu untuk menjelaskan beda antara Komunikasi Grafis dengan Komunikasi Visual.
Komunikasi visual merupakan payung dari berbagai kegiatan komunikasi yang menggunakan unsur rupa (visual) pada berbagai media: percetakan / grafika, luar ruang (marka grafis, papan reklame), televisi, film /video, internet dll, dua dimensi maupun tiga dimensi, baik yang statis maupun bergerak (time based).
Sedangkan Komunikasi Grafis merupakan bagian dari Komunikasi Visual dalam lingkup statis, dua dimensi, dan umumnya berhubungan dengan percetakan / grafika.
ž  Linguistik Struktural Roman Jakobson
ž  Roman Osipovich Jakobson, lahir 11 Oktober 1896, adalah seorang bahasawan dan teorisi kesusastraan. Sebagai seorang bahasawan strukturalis, dia cukup berpengaruh di paruh pertama abad 20. Minatnya yang luas di bidang selain linguistik membuahkan pengaruh di bidang semantik, semiotik, puisi, musik, seni visual dan sinema.
ž  Pemikiran awalnya yang penting, seperti dipaparkan John Lechte, adalah penekanannya pada dua aspek dasar struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metator retoris (kesamaan), dan metonimia (kesinambungan).
ž  Enam Fungsi Bahasa
  1. Fungsi referensial, pengacu pesan.
  2. Fungsi emotif, pengungkap keadaan pembicara.
  3. Fungsi konatif, pengungkap keinginan pembicara yang langsung atau segera dilakukan atau dipikirkan oleh sang penyimak.
  4. Fungsi metalingual, penerang terhadap sandi atau kode yang digunakan.
  5. Fungsi fatis, pembuka, pembentuk, pemelihara hubungan atau kontak antara pembicara dengan penyimak.
  6. Fungsi puitis, penyandi pesan.
ž  Langkah Analisis Structural Atas Fonem
  1. Mencari distinctive features (ciri pembeda yang membedakan tanda-tanda kebahasaaan satu dengan yang lain. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya cirri pembeda dalam tanda-tanda tersebut.
  2. Memberikan suatu cirri menurut features tersebut pada masing-masing istilah, sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lain.
  3. Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana-dengan distinctive features yang mana-yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainnya.
  4. Menentukan perbedaan antar tanda yang penting secara pragmatis, yakni perbedaan-perbedaan antar tanda yang masih dapat saling menggantikan
ž  Fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis, unit-unit yang bermakna, dan ini dilakukan dengan mengetahui cirri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan cirri-ciri suara yang lain.
ž  Misalnya saja /c/ dan /j/ dalam pancang dan panjang.
ž  ROLAND BARTHES
ž  Pengantar
ž  Barthes,  lahir  di  Chevourg  pada  tahun  1915  dan meninggal di Paris pada tahun 1980.
ž  Roland  Barthes  sangat  dikenal  luas  sebagai  penulis  yang  menggunakan analisis semiotik  dan pengembang  pemikiran pendahulunya seorang  bapak semiologi  atau  semiotik  Ferdinand  de  Saussure.
ž  Pernyataan Barthes yang paling dikenal adalah  “La Mort de l’auteur” atau “matinya si penulis”, The death of the author yang dengan itu ia ingin  menggaris-bawahi  bahwa  tidak  ada  otoritasi  interpretasi, dan  interpretasi  dapat  terus  berjalan.
ž   Buku  Mithologie  (mitologi),  karya  Roland  Barthes  merupakan  buku  seri  yang memuat  artikel-artikel  yang  sebagian  besar  dipublikasikan dalam  majalah  Les  Leures  Nouvelles  antara  tahun  1954  dan 1956.
ž  Topik-topik  dalam  mithologi  yang  ditulis  Barthes  berkisar pada  opini  biasa.
ž  Analisis Kritik Ideologi
ž  Dalam  salah  satu  artikelnya,  Barthes membahas  tentang “gulat”, yang dikatakannya bahwa gulat itu adalah  sebuah  pertunjukan.
ž  Padahal  secara  umum  gulat merupakan  salah  satu  cabang  olah  raga  (lihat  Barthes: 1952;15).
ž  Alasannya,  gulat  bukan  hanya  sebagai  olah  raga yang  mengandalkan  kekuatan  pisik  tetapi  lebih  dari  suatu.
ž  Dalam  “gulat”  terdapat  dua  tingkatan  pesan  yakni  pertama adalah  pesan  “olah  raga”,  dan  kedua  adalah  pesan  moral tentang  “baik  dan  jahat”. 
ž  Kedua  jenis  pesan  tersebut merupakan  bagian  dari  kepuasan  penonton,  yakni  kepuasan terhadap konflik tentang “baik dan buruk” yang dikemas dalam pertunjukan  gulat.
ž  sehingga  pesan  yang  sebenarnya  dalam pertunjukan  gulat  bukanlah  persoalan  estetika  tetapi  sudah  ke taraf  “ideologis”.
ž  artikel  lainnya  yang berjudul  strip-tease  (Barthes  1972:58)  dalam  tarian  striptis bukan hanya mengetengahkan tentang seksualitas tetapi mende-seksualkan  perempuan.  Dua  topik  yang  diketengahkan Barthes  tersebut  seolah-olah  memuat  pesan  yang  benar  atau natural tetapi sebenarnya mengandung pesan yang terselubung atau tersembunyi.
ž  Mitos
ž  Mitos adalah suatu bentuk pesan atau tuturan yang harus diyakinii  kebenarannya  tetapi  tidak  dapat  dibuktikan.  Mitos bukan  konsep  atau  ide  tertapi  merupakan  suatu  cara pemberian arti.
ž  mitos  adalah  suatu  sistem komunikasi,  yakni  suatu  pesan  (message), Tetapi  mitos  tidak didefinisikan  oleh  objek  pesan  melainkan  dengan  cara menuturkan  pesan  tersebu
ž  Mitologi  terdiri  dari  semiologi  dan  ideologi.  Semiologi sebagai formal science dan ideologi sebagai historical science.
ž  Mitologi mempelajari tentang ide-ide dalam suatu bentuk.
ž  Contoh terkenal, Barthes mengetengahkan Paris-Match.  Kepada  seorang  tukang  cukur  Barthes  mengatakan bahwa ia sedang membaca Paris-Match.
ž  Pada halaman depan ia  melihat  gambar  seorang  Negro  memakai  seragam  militer Perancis sedang memberi hormat, dengan gagahnya, matanya tajam  ke  atas.
ž  Untuk  mengetahui  atau  mendeteksi  mitos  dapat  dengan cara  mengetahui  karakter-karakter  mitos  seperti  yang dikatakan Barthes sebagai berikut :
ž  Tautologi
ž  Identifikasi
ž  Neither-norism (bukan ini bukan itu)
ž  Mengkuantitaskan yang kualitas
ž  Privatisasi Sejarah.
ž  Ferdinand de Saussure
ž  Materi Kuliah
ž  Kajian Visual
ž  Komunikasi - Unand
ž  Lahir: 26 November 1857, Jenewa, Swiss
ž  Linguis Swedia dikenal sebagai Bapak Linguistik Modern dan semiotika.
ž  Konsepnya yang paling terkenal adalah pembedaan tanda bahasa menjadi dua aspek, yaitu signifiant (yang memaknai) dan signifie (yang dimaknai).
ž  Sejak kecil, Saussure memang sudah tertarik dalam bidang bahasa.
ž  Tahun 1880 ia mendapat gelar doktor (dengan prestasi gemilang: summa cum laude) dari universitas Leipzig dengan disertasi: De l’emploi du génetif absolu en sanscrit (Kasus Genetivus Dalam Bahasa Sansekerta)
ž  Dalam semiologi, Saussure berpendapat bahwa bahasa sebagai “suatu sistem tanda yang mewujudkan ide” dapat dibagi menjadi dua unsur: langue (bahasa), sistem abstrak yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat yang digunakan sebagai alat komunikasi, dan parole (ujaran), realisasi individual atas sistem bahasa.
ž  Sebagai penemu konsep linguistik modern, wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme.
ž  Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa. Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa, 2006).
ž  Bahasa
ž  Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok yang lain.
ž  Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa. Yaitu:
  1. Signified (tinanda) dan signifier (penanda).
  2. Form (wadah) dan content (isi).
  3. Bahasa (Langue) dan Tuturan (Parole)
  4. Sinkronis (Synchronic) dan Diakronis (Diachronic)
  5. Sintagmatik dan Paradigmatik
ž  Charles Sanders Pierce
ž  Materi Kuliah
ž  Kajian Visual
ž  Komunikasi - Unand
ž  Charles Sanders Pierce
ž  Lahir : 10 September 1839, Cambridge, Massachusetts, Amerika.
ž  Pendidikan         : Harvard College, Universitas Harvard, Harvard School of Engineering and Applied Sciences
ž  Filsuf Amerika yang paling orisinil dan multidimensional. (Aart van Zoest, 1993;8)
ž  Pemikir yang argumntatif. (Paul Cobley dan Litza Jansz, 1999;20)
ž  Peirce mengemukakan bahwa proses semiosis terjadi karena adanya tiga hal, yaitu ground, denotatum, dan interpretan.
ž  GROUND
ž  Qualisigns : tanda yang merupakan tanda berdasar pada suatu sifat.
ž  Sinsign : tanda yang merupakan tanda atas dasar tampilnya dalam kenyataan.
ž  Ligisign : tanda yang merupakan tanda atas dasar peraturan.
ž  DENOTATUM
ž  Ikon : hubungan tanda dan acuannya mirip.
ž  Indeks : hubungan tanda dan acuannya berdasar kedekatan eksistensial.
ž  Simbol : hub tanda dan acuannya ditentukan suatu peraturan yang berlaku umum.
ž  INTERPRETAN
ž  Rheme : interpretannya berupa sebuah kemungkinan.
ž  Desisign : interpretantnya berupa kebenaran.
ž  Argument : interpretantnya berlaku umum.
A sign, or representamen, is something which stands to somebody for something in some respect or capacity. It addresses somebody, that is, creates in the mind of that person an equivalent sign, or perhaps a more developed sign. That sign which it creates I call the interpretant of the first sign. The sign stands for something, its object. It stands for that object, not in all respects, but in reference to a sort of idea.
ž  Segitiga Pierce
ž  coba kalian beri contoh tanda untuk definisi Peirce. Caranya, gunakan segitiga itu ya. Misalnya, representamennya apa, objeknya apa, dan interpretannya apa.
ž  Analisis Tanda Dan Makna Karya Desain Komunikasi Visual
ž 
Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan Masyarakat
ž  Iklan layanan masyarakat (ILM) adalah jenis periklanan yang dilakukan oleh pemerintah, suatu organisasi komersial ataupun nonkomersial untuk mencapai tujuan sosial atau sosio-ekonomis, terutama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. ILM ini misalnya ILM Gerakan Anti Narkoba, Subsidi Listrik dan Hemat Listrik, Pemilu yang Jujur dan Adil, Kebakaran Hutan, Bencana Alam, dan sebagainya.
ž  Melalui ILM, orang diajak berkomunikasi guna memikirkan sesuatu. ILM bersifat memunculkan kesadaran baru yang bersumber dari nurani individual maupun kelompok tentang hal-hal yang berorientasi lingkungan hidup, sosial kemasyarakatan, dan kebudayaan.
ž  Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan Masyarakat
ž  Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan Masyarakat
ž  Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan Masyarakat
ž  Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan Masyarakat
ž  Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan Masyarakat
ž  Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan Masyarakat
ž  Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan Masyarakat
ž  Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan Masyarakat
ž  Analisis Semiotika Komunikasi Visual Desain Oblong Dagadu Djokdja
ž  Analisis Semiotika Komunikasi Visual Desain Oblong Dagadu Djokdja
ž  Analisis Semiotika Komunikasi Visual Desain Oblong Dagadu Djokdja
ž  Sesi tanya-tanya
ž  Mulya : idiom itu apa saja? Ada berapa? Tolong jelaskan lebih jauh mengenai “idiom”
-------------------------------
Idiom atau Ungkapan –
-------------------------------
Next...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar